Waspada, Orang Yang Gemuk Lebih Berisiko Terkena Kanker Hati

Waspada, Orang Yang Gemuk Lebih Berisiko Terkena Kanker Hati | Orang gemuk berisiko tekena penyakit yang membunuh secara perlahan, diantaranya Kanker Hati.

Berjumpa kembali dengan kami agen resmi penjualan obat herbal online terbesar dan terpercaya yang secara profesional telah banyak menerima pesanan dan pengiriman ke seluruh wilayah Indonesia dan luar negeri, yang melayani dengan pelayanan terbaik kami yakni ‘Barang Sampai Baru Bayar‘ yang artinya anda tidak perlu melakukan pembayaran jika pesanan belum sampai ke tempat anda, juga memberikan Garansi Uang Kembali Jika Barang Tidak Sampai. Kami menyediakan berbagai macam suplemen dan vitamin herbal berkhasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit sekaligus untuk menjaga kesehatan tubuh. Salah satunya adalah menyediakan QnC Jelly Gamat yang merupakan obat multikhasiat yang terbuat dari Ekstrak Teripang Emas yang diolah secara modern supaya keaslian produknya tetap terjaga. Namun sekarang ini kami bukan membahas mengenai qnc jelly gamat, melainkan akan memberikan informasi mengenai hal yang berkaitan dengan kesehatan, yaitu mengenai Orang Yang Gemuk Lebih Berisiko Terkena Kanker Hati. Bernakah demikian? berikut ulasan lengkapnya.

waspada, orang yang gemuk lebih berisiko terkena kanker hati

Waspada, Orang Yang Gemuk Lebih Berisiko Terkena Kanker Hati — World Health Organization (WHO) mencatat angka kegemukan di dunia semakin meningkat. Jumlah orang yang mengalami kenaikkan berat badan saja tercacat mencapai 2 miliar dengan 600 juta orang yang kegemukan.

Profesor sekaligus konsultan internist-gastro entero hepatologist dokter Lesmana mengatakan, kegemukan bisa memicu munculnya lemak hati yang pada akhirnya bisa mengakibatkan kanker. Dari data yang pernah dihimpun Lesmana untuk Rumah Sakit Medistra, dari sekitar 1054 sampel yang diteliti sebanyak 51% mengalami perlemakan hati. Sebanyak 41,2% keadaannya ringan, 1,5% sedang, dan 8,3% mengidap perlemakan hati berat.

Lesmana juga menjelaskan, pasien yang menderita perlemakan hati biasanya juga mengidap penyakit lainnya seperti hipertensi. Jadi jangan pernah anggap enteng lemak pada hati.

Pasien dengan perlemakan hati dibandingkan tidak, lebih banyak mempunyai hipertensi, umumnya mereka gemuk. Lebih banyak punya kadar gula tinggi dan lipid tinggi,” kata Lesmana dalam diskusi dengan awak media di Rumah Sakit MRCCC Siloam, Jakarta.

Pada dasarnya lemak hati tidak progresif. Namun kata Lesmana, ada kondisi tertentu yang cukup kompleks sehingga menyebabkan lemak hati bisa mengarah pada penyakit yang lebih serius.

Lemak hati bisa memicu peradangan. Prevalensinya 6-13% perlemakan hati juga mengalami peradangan. Hal tersebut disebabkan lemak hatinya berubah menjadi agresif.

Adanya virus, seperti hepatitis B, diabetes mellitus, atau hepatitis C juga bisa membuat lemak hati memicu peradangan dan mempercepat kehagalan hati.

Ada perlemakan hati dan hepatitis B jadi memperberat penyakit hatinya,” ujar Lesmana.

Dari peradangan itu, kemungkinan sebanyak 9-20 persen akan mengarah pada pengerasan hati atau sirosis. Tahap inilah yang akan membawa penyakit ke arah yang lebih fatal.

Jika tidak ditangani, dalam 5-7 tahun, penderita sirosis bisa mengalami gagal hati atau bahkan kanker hati. Saat itu, jalan satu-satunya adalah cangkok hati untuk menyelamatkan nyawa.

Lesmana mengatakan, awalnya dokter di Indonesia belum ada yang percaya kalau lemak hati bisa sampai memicu kanker hati. Sekitar 20 tahun yang lalu, Lesmana mengikuti seminar di Amerika Serikat dan membawa fakta ini ke Indonesia.

Dulu lemak hati tidak dianggap serius. Betul tidak serius, tapi ternyata ada juga yang menyebabkan peradangan. Kalau tidak diatasi akan mengalami pengerasan hati, yang akhirnya jadi gagal hati atau kanker hati. Bisa meninggal atau harus cangkok hati,” kata Lesmana.

Namun, kesadaran akan ancaman kemak hati ini di Indonesia baru disadari beberapa tahun belakangan. Sejak tahun 2009 beberapa dokter melakukan penelitian untuk melihat adakah hubungan antara kanker hati dan lemak hati.

Data dari tiga rumah sakit besar, seperti RS. Cipto Mangunkusumo, RS. Medistra, dan RS. Dharmais mencatat, penyebab kanker hati tertinggi kedua setelah hepatitis B adalah non-viral.

Kita takutnya ini akibat perlemakan. Karena kanker hati tidak selalu karena hepatitis,” ujar Lesmana.

Baca Juga : Obat Hepatitis A Herbal

| Waspada, Orang Gemuk Berisiko Terkena Kanker Hati |